Ruang Lingkup Ilmu Kalam

Materi Pembelajaran

Materi

SUMBER-SUMBER PEMBAHASAN ILMU KALAM

Sumber-sumber Ilmu Kalam dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu dalil naqli (Al-Qur'an dan Hadits) dan dalil aqli (akal pemikiran manusia). Alqur'an dan Hadits merupakan sumber utama yang menerangkan tentang wujud Allah, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya dan permasalahan aqidah Islamiyah yang lainnya. Para mutakallim tidak pernah lepas dari nash-nash al-Qur'an dan Hadist Ketika berbicara masalah ketuhanan. Masing-masing kelompok dalam ilmu kalam mencoba memahami dan menafsirkan al-Qur'an dan Hadits lalu kemudian menjadikannya sebagai penguat argumentasi mereka. Berikut ini adalah sumber-sumber Ilmu Kalam :

  1. Al-Qur'an

    Sebagai sumber Ilmu Kalam. Al-Qur'an banyak menyinggung hal yang berkaitan dengan masalah ketuhanan, diantaranya adalah sebagai berikut :

    1. QS. Al-Ikhlas ayat 3-4

      ﴿ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ ٣ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ ٤ ﴾

      Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan (3). Serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya." (4).

    2. Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah Maha Esa, yakni Tuhan tidak beranak dan juga tidak diperanakkan, serta tidak ada sesuatupun di dunia ini yang sejajar (tampak sekutu) dengan-nya.

    3. QS. Asy-Syura ayat 7

      ﴿ وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لِّتُنْذِرَ اُمَّ الْقُرٰى وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيْهِ ۗفَرِيْقٌ فِى الْجَنَّةِ وَفَرِيْقٌ فِى السَّعِيْرِ ٧ ﴾

      Demikianlah Kami mewahyukan kepadamu Al-Qur'an yang berbahasa Arab agar engkau memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qurā (Makkah) dan penduduk di sekelilingnya serta memberi peringatan tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak diragukan keberadaannya. Segolongan masuk surga dan segolongan (lain) masuk neraka. (7).

    4. Ayat di atas menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyerupai apapun di dunia ini . Ia Maha Mendengat dan juga Maha Mengetahui.

    5. QS. Al-Furqon ayat 59

      ﴿ اَلَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۚ اَلرَّحْمٰنُ فَسْـَٔلْ بِهٖ خَبِيْرًا ٥٩ ﴾

      (Allah) yang menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa. Kemudian, Dia bersemayam di atas ʻArasy. (Dialah) Yang Maha Pengasih. Tanyakanlah (wahai Nabi Muhammad) tentang Dia (Allah) kepada Yang Maha Mengetahui (Allah).

    6. Ayat tersebut mengungkapkan bahwa Tuhan Yang Maha Penyayang bertahta di atas "Arsy". Ia pencipta langit, bumi, dan semua yang ada di dalam keduanya.

    7. QS. Al-Fath ayat 10

      ﴿ اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ ۗيَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِنَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا ࣖ ١٠ ﴾

      Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad), (pada hakikatnya) mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Oleh sebab itu, siapa yang melanggar janji (setia itu), maka sesungguhnya (akibat buruk dari) pelanggaran itu hanya akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan menganugerahinya pahala yang besar..

    8. Ayat di atas menjelaskan bahwa Tuhan mempunyai "tangan" yang selalu berada di atas tangan orang-orang yang melakukan sesuatu selama mereka berpegang teguh dengan janji Allah. Yang dimaksud tangan adalah kekuatan dan kekuasaan Allah.

    9. QS. Thaha ayat 39

      ﴿ اَنِ اقْذِفِيْهِ فِى التَّابُوْتِ فَاقْذِفِيْهِ فِى الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّيْ وَعَدُوٌّ لَّهٗ ۗوَاَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّيْ ەۚ وَلِتُصْنَعَ عَلٰى عَيْنِيْ ۘ ٣٩ ﴾

      "(Ilham itu adalah perintah Kami kepada ibumu,) 'Letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Maka, biarlah (arus) sungai itu membawanya ke tepi. Dia akan diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya.' Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang dari-Ku dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.".

    10. Ayat ini memberikan informasi bahwa Tuhan mempunyai "mata" yang selalui digunakan untuk mengawasi seluruh gerak, termasuk Gerakan hati mahluk-Nya.

    11. QS. An-Nisa ayat 125

      ﴿ وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا ١٢٥ ﴾

      "Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang memasrahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia muhsin (orang yang berbuat kebaikan) dan mengikuti agama Ibrahim yang hanif? Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih(-Nya)".

    12. Ayat tersebut menunjukkan bahwa Tuhan telah menurunkan aturan berupa agama. Seseorang akan dikatakan telah melaksanakan aturan agama apabila melaksanakannya dengan ikhlas karena Allah.

    13. QS. Al-Anbiya ayat 92

      ﴿ اِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةًۖ وَّاَنَا۠ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ ٩٢ ﴾

      "Sesungguhnya ini (agama tauhid) adalah agamamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu. Maka, sembahlah Aku".

    14. Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia dalam berbagai suku, rasa tau etnis, dan agama apapun adalah umat Tuhan yang satu. Itulah sebabnya semua umat dalam kondisi dan situasi apapun harus mengarahkan pengabdiannya hanya kepada Tuhan

    Ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan tentang sifat-sifat, Dzat-dzat dan terkait masalah ketuhanan tidak hanya yang disebutkan di atas namun, masih banyak. Ayat-ayat di atas berkaitan dengan dzat, sifat, asma, perbuatan, tuntunan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan eksistensi Tuhan. Hanya saja, penjelasan rinciannya tidak ditemukan. Oleh sebab itu, para ahli berbeda pendapat da;am menafsirkan rinciannya. Pembicaraan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan disistemarisasikan yang pada akhirnya menjadi sebuah ilmu yang dikenal dengan istilah ilmu kalam.

  2. Hadist

    Masalah-masalah dalam Ilmu Kalam juga disinggung dalam banyak hadist, diantaranya yaitu hadits yang menjelaskan tentang iman, Islam, dan ihsan yang diriwayatkan dari Ibnu 'Umar r.a.. sebagai berikut :

    "Suatu hari kami Bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba dating kepada kami seorang laki-laki yang pakaiannya sangat putih, rambutnya sangat hitam, dan jejak kakinya tidak kelihatan sama sekali. Para sahabat heran, dan tidak seorang pun dari kami melihat dari mana ia dating, dan tidak ada yang mengenalnya. Laki-laki itu duduk dekat Rasulullah SAW dan menyandarkan kedua kakinya kepada kedua kaki Rasulullah SAW dan meletakkan tangannya di atas paha beliau. Kemudian berkata : "Wahai Muhammad, ceritakan kepadaku tentang Islam?" Nabi SAW menjawab : "Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika kamu mampu diperjalannya." Laki-laki itu berkata : "Betul, ya Muhammad." Umar bin Khattab yang berada dekat Nabi kaget dan berkata: "Kami heran dengan orang itu, dia yang bertanya dan dia juga yang membenarkan." Kemudian laki-laki itu berkata lagi :"Beritahukan kepada kami tentang iman?!" Pintanya lagi. Nabi SAW menjawab, "Iman itu adalah kamu beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kepada Qadar-Nya, yang baik dan yang buruk." Laki-laki itu menukas lagi,"Anda benar, ya Muhammad." Kemudian mengajukan pertanyaan lagi:"Beritahukan kepadaku tentang ihsan?" Nabi menjawab, "Ihsan adalah kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Jika engkau tidak melihatnya, maka percayalah Allah melihatmu." Kemudia ia berkata, "Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)". Nabi menjawab, "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya". Laki-laki itu berkata, "Beritahukan aku tentang tanda-tandanya". Nabi menjawab, "Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya". Kemudian laki-laki tersebut berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian Rasulullah SAW bertanya "Tahukan engkau siapa yang bertanya?". Aku (Umar) berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui". Nabi bersabdam, "Dia adalah Jibril yang dating kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian". (HR. Muslim)

    Dalam hadist di atas, Jibril membedakan antara Islam dan Iman dalam dua pertanyaannya yang terpisah. Nabi pun menjawab dua pertanyaan Jibril dengan dua jawaban yang berbeda. Secara urutan, memang kata "Iman" disebut terlebih dahulu ketimbang "Islam" sebagaimana diuraikan dalam hadist Jibril di atas. Ini dapat dimaklumi karena keimanan merupakan entitas yang menjadi kekuatan pendorong untuk menangkal segala sesuatu yang tidak sejalan dengan keyakinan yang benar, sekaligus sebagai kekuatan motivator bagi terlaksananya perintah-perintah agama. Pada titik inilah sesungguhnya Ilmu Kalam memberikan motivasi kuat bagi pelaksanaan perintah-perintah agama.

    Hadist di atas menunjukkan kepada kita tentang pokok-pokok agama Islam yang masih umum dan harus diinterpretasikan, baik melalui kajian ilmu akhlaq, ilmu fiqih, maupun ilmu kalam sendiri agar umat Islam dapat mengetahui bagaimana pokok-pokok agama Islam tersebut secara lebih radiks dan komprehensif.

    Selain itu, ada beberapa hadist yang kemudian dipahami Sebagian umat sebagai prediksi Nabi mengenai kemunculan berbagai golongan dalam ilmu kalam, diantaranya "Hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. ia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, "Orang-orang Yahudi akan terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan."

    Hadist yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar. Ia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda,"Akan menimpa umatku yang pernah menimpa Bani Israil, Bani Israil telah terpecah belah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya akan masuk neraka, kecuali satu golongan saja, "Siapa mereka itu, wahai Rasulullah?" tanya para sahabat. Rasulullah menjawab, "mereka adalah yang mengikuti jejakku dan sahabat-sahabatku".

    Banyak hadist-hadist yang membahas tentang umat Islam akan terpecah belah ke dalam beberapa golongan. Diantara golongan-golongan itu, hanya satu saja yang benar, sedangkan yang lainnya sesat. Mengenai hadist-hadist yang digunakan tedensi Ilmu Kalam perlu diteliti keontetikannya karena masing-masing firqah mengklaim kebenarannya dengan hadist.

  3. Pemikiran Manusia

    Pemikiran manusia merupakan salah satu sumber Ilmu Kalam yang dalam hal ini dapat berupa pemikiran umat Islam itu sendiri maupun pemikiran yang berasal dari luar umat Islam. Di dalam Al-Qur'an, banyak sekali terdapat ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk berfikir dan menggunakan akalnya dalam hal yang bersifat positif/baik. Beberapa dalil yang menjadi dasar penggunaan akal adalah sebagai berikut :

    1. Akal merupakan syarat yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif (beban kewajiban) dari Allah.
    2. Allah mencela orang yang tidak menggunakan akalnya. Seperti, celaan Allah terhadap ahli neraka yang tidak menggunakan akalnya.

      ﴿ وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ ١٠ ﴾

      "Mereka juga berkata, "Andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentulah kami tidak termasuk ke dalam (golongan) para penghuni (neraka) Sa'ir (yang menyala-nyala)."(QS. Al-Mulk : 10)

    3. Adanya ungkapan dalam Al-Qur'an yang mendorong penggunaan akal. Dalam hal ini biasanya al-Qur'an menggunakan redaksi tafakkur, tadabbur, tadzakkur, tafaqqah, nazhar, Fahima, aqala, ulul al-albab, ulul al-ilm, ulu al-bashar, dan ulu an-nuha. Diantara ayat-ayat tersebut, salah satunya adalah sebagai berikut :

      ﴿ اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا ٢٤ ﴾

      ""Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur'an ataukah hati mereka sudah terkunci?"."(QS. Muhammad : 24)

    4. Islam memuji orang-orang yang menggunakan akalnya dalam memahami dan mengikuti kebenaran.

      ﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ١١ ﴾

      ""Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu "Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis," lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, "Berdirilah," (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadalah : 11)

    5. Islam mencela taqlid yang membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal.

      Perbedaan antara taqlid dan ittiba' adalah sebagaimana telah dikatakan oleh Imam bin Hanbal, ittiba' adalah seseorang mengikuti apa-apa yang dating dari Rasulullah, sedangkan taqlid adalah menerima apa adanya tanpa mengetahui dasar dan latar belakangnya. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah : 170 berikut :

      ﴿ وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ ١٧٠ ﴾

      "Artinya : "Apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab, "Tidak. Kami tetap mengikuti kebiasaan yang kami dapati pada nenek moyang kami." Apakah (mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka (itu) tidak mengerti apa pun dan tidak mendapat petunjuk?"(QS. Al-Mujadalah : 11)

    Oleh karena itu,jika umat Islam sangat termotivasi untuk memaksimalkan penggunaan rasionya, hal itu bukan karena pengaruh dari pihak luar saja, melainkan karena adanya perintah langsung dari Al-Qur'an. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan sangat jelasnya penggunaan rasio dan logika dalam pembahasan Ilmu Kalam. Bentuk konkret penggunaan pemikiran manusia sebagai sumber Ilmu Kalam adalah ijtihad yang dilakukan oleh para mutakallimun.

    Adapun pemikiran yang berasal dari luar Islam dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori, antara lain :

    1. Pemikiran non muslim yang telah menjadi peradaban lalu di transfer dan diasimilasikan dengan pemikiran umat Islam.

      Sebelum Islam masuk dan berkembang di Timur Tengah, Timur Tengah merupakan salah satu wilayah tempat diturunkannya agama-agama Samawi lainnya. Agama-agama tersebut diturunkan oleh Allah SWT diTimur Tengah karena masyarakatnya dikenal suka mengingkari kebenaran dan bersikap munafiq. Jadi dapat dikatakan secara kultural orang Timur Tengah pada masa itu suka menyelewengkan kebenaran Tuhan yang menyebabkan munculnya dekadensi akhlaq. Agama-agama yang diselewengkan tersebut seperti Mazdakiyah, Manawiyah, Yahudi, dan Nasrani. Dan karena kondisi penyelewengan tersebutlah Allah SWT menurunkan agama Islam yang lurus sebagai agama yang paling sempurna dan orisinil.

      Setelah Islam berkembang pesat, banyak nonmuslim dari agama-agama samawi seperti yang telah disebutkan di atas yang masuk Islam, dan tidak sedikit di antara mereka yang ahli dibidangnya yang ide dan pemikirannya ikut mempengaruhi ajaran Islam sehingga memunculkan berbagai problematika ketuhanan. Orang-orang tersebut seperti Ma'bad al-Jauhani dan Abdullah bin Wahab bin Saba.

      Ma'bad al-Jauhani semula beragama Nasrani. Ia dating ke Madinah dan mewacanakan masalah qadar. Ia mempertanyakan apakah takdir itu berasal dari Allah atau bukan?. Padahal takdir merupakan konsekuensi logis dari perbuatan manusia yang bebas dari pengaruh siapapun dan apapun. Para ulama pada saat itu meminta kepada umat Islam untuk menjauhi Ma'bad dan akhirnya Ma'bad dihukum mati oleh Khalifah Malik bin Marwan di Damaskus pada tahun ke-8 H.

      Sedangkan Abdulllah bin Wahab bin Saba yang terkenal dengan panggilan Ibn Sauda berasal dari kalangan Yahudi yang masuk Islam. Pemikiran keyahudiannya yang diwacanakan kepada masyarakat Islam adalah imamah. Ia mengajarkan bahwa Ali bin Abi Thalib merupakan seorang khalifah yang diperkuat oleh nash agama, sedangkan semua khalifah sebelumnya tidaklah sah bahkan menganggap khalifah lainnya telah merebut hak kekhalifahan Ali. Pemikiran ini kemudian berkembang dan memunculkan sekte Syi'ah Imamiyah.

    2. Berupa pemikiran-pemikiran nonmuslim yang bersifat akademis, seperti filsafat (terutama filsafat Yunani), sejarah, dan sains.

      Golongan Mu'tazilah memusatkan perhatiannya untuk dakwah Islam dengan membantah argumentasi-argumentasi orang-orang yang memusuhi Islam. Untuk itu, mereka tidak akan bisa menolak lawan-lawannya kecuali sesudah mereka mempelajari pendapat-pendapat serta alasan-alasan lawan mereka, sehingga mereka terpaksa mempelajari dan mengambil manfaat dari logika Filsafat Yunani, terutama dari sisi ketuhanannya. Misalnya An-Nadham, seorang tokoh Mu'tazilah, ia mempelajari filsafat Aristoteles dan menolak beberapa pendapatnya. Maka terjadilah perdebatan-perdebatan yang rasional antar agama saat itu.

Pengertian
Terminologi
Sebab Nama

Menu Lainnya

Nama Lain
Sumber & RL
Ruang Lingkup
Hubungan Ilmu
Korelasi Ilmu
Tujuan & Manfaat
Manfaat
Moderasi